image1 image2 image3 image4 image5

Relawan PMI Mengikuti Pelatihan Radio Tanggap Darurat

Pelatihan Radio Tanggap Darurat Bencana 2017Relawan PMI Provinsi Aceh mengikuti Pelatihan Radio Tanggap Darurat pada tanggal 1 sampai 8 Agustus 2017 di Aula BPBA dengan Praktik Lapangan ke wilayah terdampak gempabumi. Pelatihan ini merupakan pelatihan ke 17 kalinya dilaksanakan dan yang ke 5 kali dilaksanakan di Indonesia. Pelatihan ini difasilitasi oleh First Response Radio (FRR), First Response Indonesia (FRI), Djati FM, dan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA). Latarbelakang berdirinya radio tanggap darurat ini berawal dari kejadian tsunami 2004 di Asia serta gempa 2005 di Pakistan telah membuat para pelaku radio siaran melihat kebutuhan akan pentingnya sebuah radio tanggap darurat bencana untuk membantu pemulihan dari bencana. Berdasarkan hal itu, FRR bekerjasama dengan pelaku penyiaran mengembangkan unit Radio Tanggap Bencana (radio rapid response). Peralatan penyiaran yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan tanggap darurat, menggunakan radio koper yang di desain praktis untuk dapat mudah dioperasikan dengan prosedur standar operasi maksimal 72 jam setelah bencana terjadi Radio Tanggap Darurat telah siaran (on air).

Peserta pelatihan ini datang dari berbagai latarbelakang pekerjaan yang berbeda-beda. Tidak hanya peserta dengan dasar kemampuan penyiar radio yang ikut, tapi diwarnai dengan personil pemerintah khusus pelayanan tanggap darurat bencana dan pegiat tanggap darurat bencana yang salah satunya Palang Merah Indonesia. PMI Aceh berkesempatan untuk mengirimkan  dua orang peserta, satu orang dari staf humas Markas PMI Provinsi Aceh dan satu penyiar unit radio Rumoh PMI.

Lokakarya

Pelatihan ini menggabungkan pengetahunan tentang radio siaran dengan keunikan pengalaman pekerja bantuan bencana alam. Selama lima hari peserta dibekali dengan materi tentang dunia radio siaran, teknis perangkat radio yang digunakan, konten siaran radio, menulis skrip radio, jurnalistik, editing suara, teknik wawancara, menjadi penyiar, serta pengetahuan umum tentang kebencanaan. Dengan latarbelakang yang berbeda peserta saling berbagi pengalaman bertugas didaerah bencana saat tanggap darurat. Bagaimana kesiapan manajemen diri sebelum, pada saat dan setelah bertugas didaerah bencana.

Field Trial

Field Trial Pelatihan Radio Tanggap Darurat di Pidie JayaDalam praktik lapangan, Kabupaten Pidie Jaya menjadi tempat praktik peserta pelatihan dimana merupakan wilayah terdampak paling parah dilanda bencana gempabumi 6,4 SR pada 7 Desember 2016 lalu. Praktik ini menjadi sangat nyata karena Pidie Jaya masih dalam masa pemulihan. Kebijakan akan pembangunan rumah bantuan gempabumi butuh penyebaran informasi ke akar rumput. Apa yang dilakukan peserta selama tiga hari di Kabupaten tersebut mendapat respon positif dari jajaran Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya. Mengumpulkan dan menginformasikan kepada masyarakat dimana proses pembangunan rumah yang hancur akibat dampak gempabumi akan mulai dibangun kembali pada september 2017. Jadi peserta pelatihan menggunakan momentum ini untuk menyebarkan informasi penting melalui siaran radio yang on air 24 jam selama tiga hari di Kabupaten Pidie Jaya. Menggunakan pemancar 600 Watt yang dipasang pada lantai lima atas gedung Kantor Bupati Pidie Jaya dengan tambahan tiang 10 meter. Cakupan area siaran mencapai batas wilayah Pidie Jaya dengan Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie, artinya tercakup sebagian besar wilayah pesisir Pidie Jaya yang menjadi area terparah dampak gempabumi.

PMI

Talkshow Radio Tanggap Darurat Bencana narasumber PMI dan Bina Marga di Pidie JayaSelain mengirimkan dua orang pesertanya, PMI juga berkontribusi menjadi sumber informasi. PMI terlibat pada respon tanggap darurat bencana gempabumi Pidie Jaya sejak kejadian 7 Desember 2016 hingga saat talkshow ini berlangsung. Kepala Markas PMI Kabupaten Pidie Jaya menjadi narasumber siaran Talkshow Radio bersama dengan Perwakilan Pemerintah melalui Dinas Bina Marga Pidie Jaya. Target untuk mengedukasi masyarakat tentang rumah ramah bencana, dan menginformasikan tentang wawasan bagaimana konstruksi bangunan yang baik sebagai bentuk dari kesiapsiagaan dan pengurangan resiko bencana. Sehingga pada saat rumah bantuan pemerintah mulai dibangun masyarakat dapat terlibat mengawasi pembangunan rumah mereka sendiri.

Joomla SEO by AceSEF

 

FacebookTwitterYoutubeFlickrDelicious